EFEKTIVITAS MEDIA GAMBAR DALAM PEMBELAJARAN IPS SEJARAH TENTANG TOKOH-TOKOH PERGERAKAN NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII F SMP NEGERI I PLAOSAN

 

 

Splasmaweb – Oleh : Erna Sulistyorini
SMP Negeri I Plaosan, Magetan
ernasulistyorini75@yahoo.com

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas media gambar untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS Sejarah pada siswa kelas VIII F SMP Negeri I Plaosan Tahun Pelajaran 2012/ 2013 dengan menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ).
Penelitian dilakukan pada minggu ke-3 bulan Nopember 2012 sampai dengan minggu ke -1 bulan Desember 2012. Dan subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII F yang berjumlah 32 siswa .
Prosedur penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, tindakan pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.Teknik pengumpulan data teknik test dan non test.
Hasil penelitian menunjukan bahwa media gambar sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Efektifitas penerapan media gambar ini memerlukan dukungan faktor-faktor lain baik yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kegiatan belajar dalam kelas.

Kata kunci : Media Gambar, Pembelajaran IPS Sejarah, Tokoh Pergerakan Nasional, Hasil Belajar

PENDAHULUAN

Dalam kerangka upaya untuk menciptakan suatu sistem pendidikan yang bermutu. Salah satu bentuk upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Guru sebagai unsur yang mempunyai pengaruh dominan dalam pembelajaran di kelas diharapkan mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa, mampu membantu siswa dalam keseluruhan proses belajar. Guru seharusnya lebih kreatif dan inovatif dalam arti guru tidak sekedar mengajar untuk memenuhi kewajibannya dan menyelesai-kan beban materi pelajaran yang harus disampai-kan. Guru diharapkan mampu menumbuhkan minat belajar siswa, merangsang keaktifan siswa selama proses pembelajaran, mampu menganalisa kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dan mencari solusi yang tepat, memilih dan meng-gunakan motode yang tepat, memunculkan media pembelajaran yang sesuai dan dapat membantu siswa dalam pembelajaran dan sebagainya. Sementara siswa yang seharusnya menjadi subyek dalam pembelajaran ternyata sebagian besar masih memposisikan diri sebagai obyek, siswa hanya diam selama proses pembelajaran, kebanyakan siswa tidak aktif, tidak mau bertanya, tidak mau menjawab pertanyaan, tidak berani mengungkapkan pendapat, sulit memahami materi dan sebagainya.
Dalam konteks inilah penulis berusaha melakukan PenelitianTindakan Kelas untuk pembelajaran IPS Sejarah terhadap siswa kelas VIII F SMP Negeri I Plaosan. Alasan penelitian tindakan kelas ini adalah (1) Kecenderungan siswa kurang tertarik terhadap pembelajaran IPS Sejarah sehingga motivasi belajar siswa rendah. (2) Sebagian besar materi pembelajaran IPS Sejarah memerlukan hafalan dan untuk itu siswa harus banyak membaca, sementara kebanyakan siswa minat membacanya masih kurang. (3) Sementara siswa yang seharusnya menjadi subyek dalam pembelajaran IPS Sejarah ternyata sebagian besar masih memposisikan diri sebagai obyek, siswa hanya diam selama proses pembelajaran, kebanyakan siswa tidak aktif, tidak mau bertanya, tidak mau menjawab pertanyaan, tidak berani mengungkapkan pendapat, sulit memahami materi dan sebagainya Pada konteks inilah permasalahan yang selama ini masih terjadi di SMP Negeri I Plaosan, terutama pada pelajaran IPS Sejarah.
Penelitian ini akan difokuskan pada materi pembelajaran IPS Sejarah yang membahas tentang Tokoh-tokoh Pergerakan Nasional dengan menggunakan media pembelajaran gambar. Pada materi ini banyak memunculkan nama-nama pergerakan nasional dan peran yang dimainkan pada masa itu. Meskipun pada buku pegangan yang dimiliki oleh siswa telah ditampilkan nama dan gambar tokoh pergerakan nasional, akan tetapi siswa kurang begitu memperhatikan. Sementara kebanyakan siswa seringkali sulit untuk mengingat nama-nama tokoh pergerakan sehingga siswa juga mengalami kesulitan jika diminta untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan tokoh pergerakan tersebut.
Penggunaan media pembelajaran gambar tokoh-tokoh pergerakan nasional diharapkan akan mampu menumbuhkan motivasi dan ketertarikan siswa, membantu memudahkan dan meningkatkan pemahaman siswa sehingga siswa mampu menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan tokoh pergerakan nasional secara tepat, menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif di mana siswa juga ikut berperan secara aktif dalam pembelajaran Pada akhirnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi diharapkan akan meningkat, sehingga hasil belajar yang dicapai juga akan meningkat.
Bertolak dari uraian singkat di atas, maka judul yang penulis tentukan pada penelitian tindakan kelas ini adalah ”Efektifitas Media Gambar dalam Pembelajaran IPS Sejarah Tentang Tokoh-Tokoh Pergerakan Nasional Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII F SMP Negeri I Plaosan “.

KAJIAN PUSTAKA

A.    Media Pendidikan

Media pendidikan dimaksudkan sebagai alat dan bahan selain buku teks, yang dapat dipakai untuk menyampaikan informasi dalam suatu situasi belajar mengajar (Wilkinson, 1984:5)
Oemar Hamalik (1980:23) menyatakan bahwa ”media pembelajaran adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah”. Penekanan definisi ini adalah ”efektifitas” komunikasi dan interaksi dalam suatu proses belajar mengajar, Media pembelajaran adalah komponen integral (satu kesatuan) dari sistem pembelajaran.
Latuheru dalam Nunuk Suryani dan Leo Agung (2012: 137) menyatakan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi pendidikan antara guru dan siswa berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna.
Dalam proses pembelajaran, media memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Dalam kegiatan interaksi antara siswa dengan lingkungan, fungsi media dapat diketahui berdasarkan adanya kelebihan media dan hambatan yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran. Tiga kelebihan kemampuan media menurut Gerlach & Ely (dalam Ibrahim, et.al., 2001) adalah sebagai berikut. Pertama; kemampuan fiksitif, artinya dapat menangkap, menyimpan, dan menampilkan kembali suatu obyek atau kejadian. Dengan kemampuan ini, obyek atau kejadian dapat digambar, dipotret, direkam, difilmkan, kemudian dapat disimpan dan pada saat diperlukan dapat ditunjukkan dan diamati kembali seperti kejadian aslinya. Kedua; kemampuan manipulatif, artinya media dapat menampilkan kembali obyek atau kejadian dengan berbagai macam perubahan (manipulasi) sesuai keperluan, misalnya diubah ukurannya, kecepatannya, warnanya, serta dapat pula diulang-ulang penyajiannya. Ketiga; kemampuan distributif, artinya media mampu menjangkau audien yang besar jumlahnya dalam satu kali penyajian secara serempak, misalnya siaran TV atau Radio.
Sementara manfaat media pembelajaran menurut Oemar Hamalik (dalam Mulyasa, 2009:79-80) adalah:

  1. Meletakkan dasar-dasar berpikir konkret dan mengurangi verbalisme;
  2. Memperbesar perhatian para siswa.
  3. Meletakkan dasar-dasar penting untuk perkembangan belajar, membuat pelajaran lebih mantap.
  4. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa.
  5. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu terutama dalam gambar hidup.
  6. Membantu tumbuhnya pengertian atau perkembangan kemampuan berbahasa;
  7. Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta keragaman yang lebih banyak pada siswa.

Wina Wijaya (2008:213-214) menyatakan bahwa “Secara sederhana media grafis diartikan sebagai media yang mengandung pesan yang dituangkan dalam bentuk tulisan, huruf-huruf, gambar-gambar dan simbol-simbol yang mengandung arti.
Media gambar tidak dapat berbicara kepada peserta pembelajaran apabila tanpa keterangan lain. Sehingga gambar merupakan pelengkap penyerta sebuah pesan yang ingin disampaikan kepada kelompok sasaran. Sehingga media gambar harus memenuhi syarat M-7, yakni

  1. Mudah, sesuai dengan daya tangkap siswa
  2. Murah, ongkos produksinya relatif murah
  3. Menarik, punya daya tarik sehingga media disenangi peserta
  4. Merangsang, mengunggah minat belajar
  5. Manfaat, isinya benar, wajar menurut nalar, tidak menyesatkan sehingga pesan gambar bermanfaat bagi peserta.
  6. Mempan, gagasan pesan pada gambar tepat untuk pemecahan masalah
  7. Mustari, gambar sesuai dengan kebutuhan saat ini

Gambar harus dijelaskan dengan narasi, karena :

  1. Adanya keterbatasan gambar dalam mengekspresikan suatu pesan, misalnya gambar orang yang sedang sakit perut tetapi mendengar ia jadi berangkat ke luar negeri seperti yang diharapkan selama ini.
  2. Persepsi terhadap gambar berbeda sesuai dengan pengalaman pribadi, atau pengalaman orang lain, atau apa yang dilihatnya atau didengarnya.
  3. Gambar adalah media mati sehingga tak dapat berbicara sendiri

B.  Media Pembelajaran dalam Pembelajaran IPS

Dalam konteks pembelajaran IPS Sejarah, media gambar  akan sangat membantu bagi siswa dalam memahami dan mengerti, dikarenakan beberapa hal :

  1. Siswa didik akan mudah mamahami beragam peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia.
  2. Selain itu dengan penggunaan media gambar, dapat menghindarkan siswa dari kebosanan mempelajari sejarah.
  3. Dengan media gambar pada beberapa pembahasan diselingi dengan penyajian gambar, siswa akan lebih banyak mempunyai daya imajinasi. (Kurnia, Anwar, 2000:128).

C.  Pembelajaran IPS Sejarah

Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh W.J.S Poerwadarminta, disebutkan bahwa sejarah mengandung 3 pengertian yaitu :

  1. Kesusasteraan lama, silsilah, asal usul
  2. Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau
  3. Ilmu pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau ( W.J.S Poerwadarminta, 1982:645).

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa Sejarah ialah cerita perubahan-perubahan, peristiwa-peristiwa atau kejadian masa lampau yang telah diberi tafsir atau alasan dan dikaitkan sehingga membentuk suatu pengertian yang lengkap ( Rustam, 1997:2).

Sejarah adalah studi tentang kehidupan manusia di masa lampau. Para sejarawan tertarik dengan semua aspek kegiatan manusia di masa lampau: politik, hukum, militer, sosial, keagamaan, kreativitas, keilmuwan dan intelektual (Sapriya, 2012:27-29).

Beberapa pendapat dari pakar mengenai definisi dari sejarah, diantaranya adalah :

  1. Prof. Bernheim dalam Bukunya Die Geschichte Screibers ( dalam Rustam, 1997:10), Sejarah adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perbuatan manusia dalam perkembangannya sebagai makhluk sosial.
  2. Johan Huizinga 1872-1945 dalam Bukunya Verzameldewerken 1950 (dalam Rustam, 1997:11), Sejarah adalah peristiwa masa lampau sebagai manifestasi dalam bentuk kejiwaan dimana satu kebudayaan membuat pertanggungjawaban mengenai masa silam.

D.  Materi IPS Sejarah.

Salah satu dampak pelaksanaan Politik Etis adalah melahirkan golongan cerdik, karena berkat diselenggarakannya pendidikan (cendekiawan). Pergerakan Nasional merupakan hal yang baru dalam sistem perjuangan bangsa dalam menghadapi penjajah.

             Masa Pergerakan Nasional Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi pergerakan modern. Masa pergerakan kebangsaan dibedakan menjadi 3 masa, yakni masa awal (perkembangan) pergerakan nasional, masa radikal, masa moderat.

  1. Masa Awal ( Perkembangan ) Pergerakan Nasional ( Tahun 1900 –an)

  * Budi Utomo – Pendiri : Dokter Wahidin Sudirohusodo, Dr. Sutomo

  * Sarekat Islam – Pendiri : Haji Samanhudi

  * Muhammadiyah – Pendiri : K.H. Ahmad Dahlan

  * Indische Partij ( IP) Pendiri: Tiga Serangkai: Douwes Dekker, dr. Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro.

  1. Masa Radikal ( Tahun 1920 – 1927 –an

  *  Perhimpunan Indonesia ( PI) – Pendiri : R.P Sosro Kartono, R. Husein Djoyoningrat, RM Noto Suroto,                   Notodiningrat.

         *  Partai Komunis Indonesia ( PKI) – Pendiri : H.J.F.M. Sneevliet

 *  Nahdatul Ulama ( NU) – Pendiri : K.H Hasyim Asy’ari

 *  Partai Nasional Indonesia (PNI) – Pendiri : Ir. Sukarno, Mr. Sartono, Mr. Iskaq Cokroadisuryo

  1. Masa Moderat ( Tahun 1930 –an )

  *  Partindo (1931)  – Pendiri : Mr. Sartono

          *  PNI Baru (1931) – Pendiri : Moh. Hatta, Sutan Syahril

  *  Partai Indonesia Raya ( Parindra ) – Pendiri : Dr. Sutomo

  *  Gerakan Rakyat Indonesia ( Gerindo ) – Pendiri : A.K Ghani

  *  Gabungan Politik Indonesia ( Gapi ) (Sudarmi, Waluyo, 2008:103-114).

E. Hasil Belajar

Menurut Suharsimi Arikunto (2002:133) mengatakan bahwa hasil  belajar adalah hasil akhir setelah mengalami proses belajar, perubahan ini tampak dalam perbuatan yang dapat diamati, dan dapat diukur. Hasil belajara yang dicapai siswa melalui proses belajar mengajar yang optimal cenderung menunjukkan hasil yang bercirikan sebagai berikut:

  • Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi pada diri siswa.
  • Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya
  • Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya seperti akan tahan lama diingatnya, membentuk perilaku, bermanfaat mempelajari aspek lain, dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan yang lainnya.
  • Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan dirinya terutama dalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajar.

Suratinah Tirtonegoro (2001:43) mengemukakan hasil belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap siswa dalam periode tertentu. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui pengalaman individu yang bersangkutan (Mohammad Asrori, 2004:6).

Gagne dalam bukunya yang berjudul The Conditions of Learning, 1977 menyatakan bahwa belajar adalah merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa.

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan di SMP Negeri I Plaosan Magetan pada siswa kelas VIII-F yang berjumlah 32 siswa. Sesuai dengan jadwal pembelajaran maka penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada minggu ke-3 bulan November 2012 sampai dengan minggu ke-1 Desember 2012.

Subyek dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas VIII-F SMP Negeri I Plaosan Magetan Tahun Pelajaran 2012/2013. Alasan penentuan subyek penelitian ini adalah kerena peneliti saat ini hanya mengajar Materi Pelajaran IPS Sejarah untuk kelas VIII-F. Jumlah subyek penelitian adalah 32 orang siswa.

Berikut akan disajikan rencana jadwal penelitian tindakan kelas yang akan dilakukan:

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

No Kegiatan Bulan / Minggu
November 2012 Des-12
1 2 3 4 1 2 3 4
1 Perencanaan (termasuk penyusunan proposal) V
2 Persiapan (persiapan media dan instrumen, observasi awal dll) V
3 Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan Tindakan 1 (siklus 1) V
Pelaksanaan Tindakan 2 (siklus 2) V
Pelaksanaan Tindakan 3 (siklus 3) V
4 Analisa dan pengolahan data V V
5 Penyusunan Laporan V V

Jenis data yang duperoleh atau yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Adapun instrumen utama yang digunakan untuk pengumpulan data adalah:

  1. Lembar Kegiatan Siswa
  2. Soal Tes
  3. Lembar Observasi

B. Prosedur Penelitian

Prosedur yang akan dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

Siklus I

a. Refleksi Awal

Pada tahap ini peneliti akan melakuan identifikasi terhadap kesulitan yang dialami siswa dalam memahami materi pelajaran tokoh-tokoh nasional dan peran yang dimainkan.

Beberapa permasalahan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran IPS sejarah adalah motivasi siswa yang rendah, kurang aktif dimana siswa hanya mendengarkan sekilas, banyak materi yang memerlukan hafalan sehingga siswa kurang mampu menguasai semua, ada kecenderungan siswa menganggap pelajaran IPS Sejarah kurang menarik.

b. Perencanaan Tindakan

Permasalahan yang ditemukan pada tahap pertama selanjutnya akan dijadikan pedoman untuk membuat perencaan tindakan yaitu menyusun instrumen penelitian yang berupa: Rencana Program Pembelajaran (RPP), gambar tokoh-tokoh pergerakan nasional yag dilengkapi dengan deskripsi singkat, LKS, Soal Tes, Angket dan Lembar Observasi.

Pada tahap ini peneliti juga akan memberikan pretest hal ini dimaksudkan utuk mengetahui pemahaman awal siswa.

c. Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap ini dilakukan pelaksanaan tindakan yang berupa pelaksanaan program pembelajaran dengan menggunakan instrumen penelitian yang telah direncanakan dan disediakan, pelaksanaan pengambilan dan pengumpulan data hasil angket, lembar observasi, LKS dan post test.

Adapun materi pembelajaran IPS Sejarah yang disampaikan pada siklus I pertama ini adalah Tokoh-tokoh Pergerakan Nasioanal Periode Masa Awal (Perkembangan ) Pergerakan Nasional.

d. Evaluasi / Refleksi

Pada tahap ini akan dilakukan evaluasi / refleksi terhadap proses dan hasil pelaksanaan tindakan kelas. Temuan pada tahap ini baik yang berupa kesulitan maupun kelemahan selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki rencana tindakan kelas pada siklus 2.

 Siklus 2

a. Refleksi Awal

Refleksi awal pada tahap ini merupakan tindak lanjut hasil evaluasi/refleksi dari siklus 1, mendeskripsikan permasalahan yang ditemukan pada siklus 1.

b. Perencanaan Tindakan

Perencanaan tindakan pada siklus 2 ini adalah menentukan permasalahan utama yang segera perlu dipecahkan, menyiapkan  Rencana Program Pembelajaran (RPP), gambar tokoh-tokoh pergerakan nasional periode radikal yang dilengkapi dengan deskripsi singkat, LKS, Soal Tes, Angket dan Lembar Observasi.

c. Pelaksanaan Tindakan

Sebagaimana pada siklus 1, pada tahap ini dilakukan pelaksanaan tindakan yang berupa pelaksanaan program pembelajaran dengan menggunakan instrumen penelitian yang telah direncanakan dan disediakan. Tahap ini juga merupakan perbaikan dari siklus 1.

Materi pembelajaran IPS Sejarah yang disampaikan pada siklus 2 pertama ini adalah Tokoh-tokoh Pergerakan Nasional Masa Radikal.

d. Evaluasi / Refleksi

Evaluasi / refleksi terhadap proses dan hasil pelaksanaan tindakan kelas di sini juga untuk mengetahui hasil dari perbaikan yang telah dilakukan. Evaluasi / refleksi pada siklus ini diharapkan juga  dapat menemukan kemungkinan kesulitan atau permasalahan selama tindakan kelas siklus 2.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 A. Hasil Penelitian

Peningkatan yang cukup tinggi menginfomasikan bahwa tindakan yang dilakukan pada siklus I bisa dikatakan cukup berhasil. Perbandingan jumlah siswa yang menjawab benar antara soal pre test dengan soal post test menunjukkan peningkatan yang signifikan. Catatan yang bisa diberikan disini adalah, meskipun telah terjadi peningkatan jumlah siswa yang mampu menjawab benar soal post test, akan tetapi jumlah atau persentasenya belum seperti yang diharapkan. Analisa data sebelumnya menunjukkan bahwa rata-rata jawaban benar siswa untuk setiap item soal post test belum ada yang mencapai 75%.Yang menjadi catatan dari setiap jawaban siswa baik untuk pre test maupun post test adalah kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam menentukan atau  menjawab tujuan dari organisasi atau pergerakan, meskipun siswa dapat menjawab identifikasi gambar dan nama organisasi dengan benar, ternyata masih terdapat siswa yang tidak dapat menjawab tujuan organisasi dengan benar. Meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat siswa yang tidak dapat menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan identifikasi gambar atau berkaitan dengan nama organisasi, tetapi dapat menjawab tujuan organisasi dengan benar. Catatan inilah yang selanjutnya akan dicarikan solusi dan diperbaiki pada siklus berikutnya yaitu siklus 2, dengan harapan terjadi peningkatan yang cukup siginifikan yaitu paling tidak siswa mampu mencapai penguasaan minimal materi yang sampaikan oleh peneliti.

Perbandingan jumlah siswa yang menjawab benar antara soal pre test dengan soal post test siklus II menunjukkan peningkatan yang signifikan. Data rata-rata hasil jawaban siswa soal post test menunjukkan bahwa persentase siswa yang mampu menjawab dengan benar di atas 80% bahkan sampai dengan 85%. Kondisi ini sudah sangat baik, perbaikan yang dilakukan pada siklus II ternyata memberikan dampak yang sangat signifikan bagi keberhasilan belajar siswa.

B. Pembahasan

Sebelum memberikan treatment pada siswa, pada awal pelajaran atau sebelum pelajaran di mulai guru memberikan soal pre test pada siswa. Setelah siswa menjawab semua soal yang diajukan, guru baru mulai memberikan treatmen pada siswa yaitu dengan menerapkan media gambar dalam pembelajaran.

Perbandingan hasil pre test dengan post test sebagaimana disajikan pada hasil prosentase rata-rata. Jawaban benar untuk item identifikasi, pre test 34,66% siswa, post test 66,76% siswa (peningkatan 32,1%). Jawaban benar untuk item nama organisasi, pre test 31,53%, post test 64,77% (peningkatan 33,24%), jawaban benar  untuk item soal Tujuan pergerakan/organisasi, pre test 22,73%, post test 51,70% (peningkatan 28,97%).

Bila melihat  hasil di atas, secara prosentase terjadi peningkatan yang cukup berarti, akan tetapi peningkatan yang dicapai setelah siswa mendapatkan materi pelajaran dengan menggunakan media gambar ternyata masih jauh dari yang diharapakan. Estimasi peningkatan jumlah siswa yang mampu menjawab dengan benar soal post test paling mencapai 75% siswa

Hasil jawaban siswa  prosentase rata-rata jawaban siswa pre test dan post test siklus II. Dari tabel di atas diketahui terjadi peningkatan yang signifikan jawaban siswa benar untuk item soal identifikasi gambar, persentase jawaban benar pre test 35,07%, dan prosentase jawaban benar post test 85,42% (selisih 50,35%). Berikutnya jawaban benar item soal nama organisasi adalah pre test 19,10%, post test 80,90% (selisih 61,8%), dan untuk jawaban benar item soal tujuan organisasi adalah pre test 17,71%, dan post test 80,21% (selisih 62,5%).

Data pendukung yang diperoleh dari teman sejawat melalui lembar observasi semua aspek yang diamati dalam kondisi yang baik, gangguan kecil hanya terjadi sesekali yaitu gangguan dari siswa yang kebetulan lewat di depan kelas, karena beberapa siswa yang lewat kadangkala berhenti, untuk sekedar memenuhi rasa ingin tahunya.

Berdasarkan data hasil penelitian atau jawaban soal pre test dan post test di atas di sini dapat ditarik kesimpulan, bahwa media gambar sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Efektifitas penerapan media gambar ini memerlukan dukungan faktor-faktor lain baik yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kegiatan belajar dalam kelas.

PENUTUP

 A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dalam bagian ini diuraikan kesimpulan sebagai berikut:

Berdasarkan data hasil penelitian atau jawaban soal pre test dan post test di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa media gambar sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Efektifitas penerapan media gambar ini memerlukan dukungan faktor-faktor lain baik yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kegiatan belajar dalam kelas.

Hal ini dapat dilihat dari perbandingan hasil pre test dengan post test pada siklus I sebagaimana disajikan pada hasil prosentase rata-rata. Jawaban benar untuk item identifikasi, pre test 34,66% siswa, post test 66,76% siswa (peningkatan 32,1%). Jawaban benar untuk item nama organisasi, pre test 31,53%, post test 64,77% (peningkatan 33,24%), jawaban benar  untuk item soal Tujuan pergerakan/organisasi, pre test 22,73%, post test 51,70% (peningkatan 28,97%).

Sedangkan untuk siklus II terjadi peningkatan yang signifikan jawaban siswa benar untuk item soal identifikasi gambar, prosentase jawaban benar pre test 35,07%, dan persetase jawaban benar post test 85,42% (selisih 50,35%). Berikutnya jawaban benar item soal nama organisasi adalah pre test 19,10%, post test 80,90% (selisih 61,8%), dan untuk jawaban benar item soal tujuan organisasi adalah pre test 17,71%, dan post test 80,21% (selisih 62,5%).

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka saran-saran yang diberikan sebagai sumbangan pemikiran untuk meningkatkan mutu pendidikan pada umumnya dan meningkatnya kompetensi siswa SMP Negeri I Plaosan pada khususnya sebagai berikut:

  1. Bagi Sekolah, pihak sekolah hendaknya berupaya untuk memfasilitasi media pembelajaran dalam kelas secara maksimal, sehingga akan memotivasi guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
  2. Bagi Guru
  3. Untuk meningkatkan prestasi belajar IPS Sejarah diharapkan menggunakan media pembelajaran yang relevan dengan materi yang disampaikan.
  4. Untuk meningkatkan keaktifan, kreativitas siswa dan keefektifan pembelajaran diharapkan menerapkan media gambar dalam
  5. Adanya tindak lanjut terhadap penggunaan media gambar pada materi pembelajaran yang lain.
  6. Bagi Siswa
    1. Peserta didik hendaknya dapat berperan aktif dengan menyampaikan ide atau pemikiran pada proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar sehingga memperoleh hasil belajar yang maksimal.
    2. Siswa dapat mengaplikasikan hasil belajar ke dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

 Hamalik, Umar. 1980. Media Pendidikan. Bandung: Transito.

Ibrahim, H. 1999. Pemanfaatan dan pengembangan media slide pembelajaran. Bahan ajar. Disajikan dalam pelatihan produksi dan penggunaan media pembelajaran bagi dosen MDU Universitas Negeri Malang. 8 Februari s.d 6 Maret 1999. Malang: FIP UM.

Ibrahim, H., Sihkabuden, Suprijanta, & Kustiawan, U. 2001. Media pembelajaran: Bahan sajian program pendidikan akta mengajar. Malang: FIP. UM.

Kurnia, Anwar, Drs. dan Suryana, Moh. H., Drs. 2002. IPS Sejarah. Jakarta: Yudhistira.

Mulyasa, H.E., Prof. Dr. M.Pd.  2009. Praktek Penelitian Tindakan Kelas, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.

Nunuk Suryani dan Leo Agung. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Yogjakarta: Penerbit Ombak.

Poerwadarminta, W.J.S. 1985.Kamus Umum Bahasa Indonesia.Jakarta: PN Balai Pustaka.

Rustam Tamburaka. Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat dalam IPTEK. Jakarta: Rineka Cipta.

Santyasa, I Wayan. 2007. Landasan Konseptual Media pembelajaran.Disajikan dalam Worh Shop Media Pembelajaran bagi Guru-Guru SMAN Banjarangkan Klungkung 1.

Sapriya.2012.Pendidikan IPS. Bandung: PT Rosdakarya.

Sudarmi, Sri dan Waluyo, 2008. Galeri Pengetahuan Sosial Terpadu. Untuk SMP / MTs Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Diperbanyak oleh CV. Putra Nugraha.

Sulaiman, Yusri dkk. 2002. Modul Metodologi Pembelajaran. Yogyakarta: BEP Depag RI – Forum Kajian Budaya dan Agama.

Suharsimi Arikunto.2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Suratinah Tirtonegoro. 2001. Anak Supernormal dan Program Pendidikannya. Jakarta: Bumi Aksara.

Wilkinson, Gene L. 1984, terjemahan oleh: Nasution, Zulkarimein, Drs., M.Sc. Media Dalam Pembelajaran (Penelitian Selama 60 Tahun). Jakarta: CV. Rajawali.

Wiriaatmadja, Rochiati. Prof., Dr. 2008. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Kerja sama dengan Program PascasarjanaUniversitas Pendidikan Indonesia.

—————— Kamus Internasional Populer. Surabaya. Karya Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *